Oleh: poltekkesmfh | April 17, 2010

Sarasehan “Pendidikan Karakter”

Susilo dan P Ihwan

Pudir I bersama P Susilo

Hari Sabtu, 17 April 2010 kemarin pengelola Poltekkes “Medica Farma Husada” yang diwakili Pudir I (Ikhwan, S.Sos, MM) dan salah seorang dosen (Susilo Wirawan, SKM, MPH) telah mengikuti kegiatan sarasehan tentang Pendidikan  Karakter yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional. Event Nasional yang digelar di Mataram ini merupakan gawe besar dari Kopertis Wilayah VIII yang meliputi Provinsi Bali, NTB dan NTT. Acaranya dibuka oleh Gubernur (TGH Zainul Majdi, MA) dan sebagai keynote speaker adalah Mendiknas (Prof. DR. Ir. H. Moh. Noeh, DEA) serta pakar-pakar lain di bidangnya sebagai pembicara.

gubernur

Gubernur dan Mendiknas

Pukul 08.30 WITA acarapun dimulai dengan diawali dengan menyanyikan lagu wajib “Indonesia Raya” oleh semua yang hadir. Selanjutnya kata sambutan dari pihak penyelenggara yang dalam hal ini diwakili oleh Prof. DR.Ir. Baharudin AB, MS selaku Ketua Kopertis Wilayah VIII dan pembukaan oleh Gubernur NTB.  Dalam kata sambutannya gubernur termuda di Indonesia ini mengucapkan selamat datang kepada Mendiknas dan jajarannya serta beberapa peserta yang berasal dari Provinsi Bali dan NTT. Diselipkan pula sedikit pengalaman Beliau semasa Tuan Guru Bajang (begitu sapaan akrabnya) ini menjadi anggota komisi 8 yang membidangi pendikan di DPR pusat. Banyak ketimpangan antara pendididkan eksak dan pendidikan dalam pembentukan karakter, dengan kata  lain pendidikan ilmu pasti (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi) mendapatkan porsi yang jauh lebih besar dibandingkan ilmu-ilmu sosial yang bermuara pada pembentukan karakter bangsa. Ini tentu sungguh ironis dan mungkin juga telah cukup memberikan kontribusi terhadap melemahnya karakter bangsa saat ini, dari yang semula sebagai bangsa yang ramah dan santun menjadi beringas dan pemarah.

Senada dengan Gubernur, Mendiknas juga mencontohkan bagaimana di dalam suatu Ujian Nasional pada berbagai level pendidikan, seorang guru telah berlaku tidak jujur kepada siswa-siswanya. Hanya karena ingin agar pencapaian kelulusan yang tinggi maka sang guru rela melakukan tindakan tercela dengan cara melakukan kasak-kusuk yaitu dengan memberikan jawaban soal kepada siswa dengan berbagai cara. Tentu dengan harapan tingkat kelulusan siswanya mencapai target setinggi tingginya dan ini sungguh merupakan kenyataan yang sangat ironis. Bagi sang guru tadi adalah sungguh sangat memalukan bagi diri dan institusinya apabila banyak siswanya yang tidak lulus.

DSCN5064

Penyerahan cinderamata

Pembicara lain yang berkesempatan menyampaikan pokok-pokok pikirannya antara lain, Wakil Gubernur (Ir. H. Badrul Munir, MM), Rektor Universitas Udayana (Prof. DR. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM), dari Dirjen Dikti (DR. Irfan) dan dipandu oleh moderator ( Prof. DR. I Putu Gelgel, SH, MH). Berbagai pandangan dan masukan  dari sudut pandang yang berbeda-beda datang dari peserta sangatlah beragam melengkapi uraian yang disampaikan para pembicara. Sebagai kesimpulan akhir yang sempat dirangkum notulen (Prof. DR. Ida Bagus Raka Suardana, SE, MM) antara lain :

  1. Pendidikan karakter sebaiknya dikembangkan dari nilai-nilai luhur yang berasal dari kearifan lokal (local wisdom)
  2. Dalam mengimplementasikan pendidikan karakter secara riil dan sungguh-sungguh maka perlu dibangun sinergitas antara orang tua, siswa, pendidik, masyarakat dan pemerintah
  3. Model pendidikan karakter perlu dikembangkan oleh pendidik dengan peserta didik baik di sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat
  4. Pendidikan karakter harus mampu melihat dan mengadopsi keberagaman namun tidak berarti  menyeragamkan.
  5. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam Mata Pelajaran/ Mata Kuliah yang masuk ke dalam kurikulum maupun sebagai ekstra kurikuler
  6. Dibutuhkan suatu sistem evaluasi yang komprehensif untuk mengukur keberhasilan (output)
  7. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk membuat perangkat pendukung berupa kebijakan, pedoman dan sumber daya

Pukul 13.00 WITA pun acara berakhir dan ditutup secara resmi oleh Wakil Gubernur. Wagub yang berlatar belakang  birokrat ini mengharapkan kegiatan ini segera ditindaklanjuti dalam bentuk semiloka atau lokakarya, agar rencana pengembangan pendidikan karakter dapat lebih terarah. Wagub yang berasal dari Sumbawa ini juga memberikan dukungan (support) sepenuhnya apabila kegiatan lanjutan tersebut akan dilakukan di NTB lagi. Sebagai acara terakhir peserta dipersilakan makan siang dan mendapatkan sertifikat yang telah disediakan panitia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: